Eksotika Wine

Wine
“Sekarang giliran paling menarik,” ujar Iwan Haris setelah duduk di balkon dan memesan stik iga. Ia memesan red wine. Di kafe The Peak di kawasan Ciwaruga, Bandung, ia mulai memanjakan diri.
Pria lajang asal Surabaya ini hobi meneguk wine. “Belum freak sih,” katanya menyebut tingkat kecanduan dirinya. “Minum wine bukan buat mabuk, tapi ngejar suasana klasik,” paparnya.
Iwan mengaku jatuh cinta pada wine saat berlibur ke Brisbane, Australia, pada 2002 silam. Dalam salah satu agenda jamuan makan malam, rekan bulenya memesan satu botol wine Sauvignon Blanc. “Awalnya lidah bereaksi nolak,” kenang Iwan.
Dua tiga teguk, ia mulai merasakan sensasi. “Antara mabuk dan sadar, hahaha…,” kata mahasiswa S2 sebuah perguruan tinggi swasta di Bandung ini sambil tergelak. Pengalaman itu membekas buatnya. Kalau kantong lagi tebal, akunya, ia pasti meminum wine. “Gua suka white wine.” Ia memilih wine yang terbuat dari anggur hijau itu karena rasanya yang eksotik.
“Gua bisa beli di daerah Kemang, atau saat dinner di kafe,” katanya merujuk tempat mencari wine di Jakarta. Saat mengkonsumsi wine, ia bisa menghabiskan duit sampai satu juta rupiah lebih. “Kalau hobi nggak masalah,” katanya. Iwan tidak sendirian menggemari wine. Bersama beberapa temannya, ia kerap mengadakan pesta wine. Tapi tidak semua temannya hobi meminum wine. “Kalau lagi acara ya campur aja, yang hobi sama yang nggak,” katanya.
Minuman yang dicap mewah dan mahal ini ternyata memiliki banyak penggemar. Dalam jumlah kecil, sejumlah kafe yang menyuguhkan wine rajin didatangi oleh mereka yang tergabung dalam komunitas penggemar minuman tersebut. Kafe ini banyak tersebar di Jakarta, Bandung, Makasar dan Surabaya. The Peak adalah salah satu yang serius menyajikan menu wine.
“Yang datang tak hanya dari dalam negeri, tapi juga dari luar,” kata Edi Sugiri, pemilik The Peak. Setelah banyak konsumen asal luar negeri mampir dan bersantap di sana, kafe ini pun lantas menyediakan ragam wine. “Mereka dari Singapura, Australia, dan Eropa,” katanya. Meski demikian, pengunjung lokal pun ternyata banyak juga yang doyan mereguk minuman yang telah ada sejak 6000 Sebelum Masehi itu.
Seperti hukum permintaan dan penawaran, kelompok penggemar wine pun mulai muncul dan secara tidak langsung terbagi dalam dua karakteristik. Kelompok pertama adalah komunitas penggemar wine klasik. “Mereka biasanya selektif memilih wine,” kata Edi yang juga gemar wine. Mereka yang selektif ini tidak asal buka botol wine, tapi sudah mengenal jenis-jenisnya dengan baik. Selain itu, ada juga kelompok yang mereguk wine sekedar having fun. Mereka tidak terlalu paham soal wine, “wine jenis apa saja diminum,” lanjutnya.
Untuk memenuhi kebutuhan para penggemar minuman ini, Edi sengaja mendatangkan wine dari sejumlah Negara, seperti Perancis, Italia, Spanyol, Yunani, Amerika, sampai Chili. Tentu saja, untuk menebus sebotol wine, para penggemar mesti merogoh kantong lebih dalam. Di The Peak misalnya, harga wine termurah dibandrol Rp 300 ribu per botol. Beberapa jenis wine yang dijual dibawah angka Rp 1 juta, antara lain Chateau La Loubiere buatan Perancis tahun 2001 dan Sparkling Wine Don Camillo dari Australia.
Sementara itu, harga wine tertinggi yang dijual The Peak adalah merk Sassicala Bolghri tahun 1992 buatan Italia. “Harganya 6 juta rupiah,” ujar Edi. Edi memang berusaha memenuhi kebutuhan komunitas penggemar wine dari berbagai karakter.
Munculnya komunitas penggemar wine disambut baik oleh Yohan Handoyo, pakar wine dari komunitas Jalansutra pimpinan Bondan Winarno. “Komunitas ini akan banyak berjasa,” katanya. Informasi soal budaya minum wine yang baik dan benar bisa disebarkan oleh mereka. Kemudian, dengan munculnya komunitas ini, maka suplier wine akan tergerak menawarkan ragam wine, “dengan harga yang bersahabat,” katanya.
Yohan juga gemar mengoleksi wine. “Sedikit-sedikit saya juga mengoleksi wine,” kata pekerja di bidang Informasi dan Teknologi ini. Ia mendapatkan koleksi wine dari mana-mana. Karena cinta, ia pun rajin terbang mengunjungi negara penghasil wine. Mulai dari Perancis, Australia, hingga yang dua tahun terakhir, Austria. “Itu kunjungan terakhir yang paling berkesan,” katanya.
Austria, menurutnya, ternyata mampu menghasilkan white wine kelas dunia dan sweet wine “paling ‘orgasmic’ yang pernah saya cicipi,” katanya. Yohan sendiri jatuh cinta pada wine pada 1997 lalu, saat ia kuliah di negeri Kangguru, Australia. Sebelumnya, “saya lebih banyak minur bir karena murah,” ungkapnya.
Saat rekan-rekan kuliahnya tertarik pada wine, Yohan penasaran. “(wine) waktu itu buat saya rasanya cuma sepet dan asem,” katanya. Ternyata, itu karena memang ia belum tahu bagaimana cara mengapresiasi wine dengan benar. Setelah ikut berbagai training, membaca berbagai buku, dan mengunjungi berbagai kebun anggur, “saya makin lama makin tertarik pada wine,” kata penulis buku Rahasia Wine ini.
Wine “cinta pertamanya” adalah Shiraz dari Barossa Valley, Australia. Sedangkan saat ini ia tengah gandrung dengan Amarone della Valpolicella dan Vacqueyras dari Perancis Selatan. Dua red wine ini punya kesamaan: sexy, manly, powerful, concentrated, complex, dan, “aromanya bisa bikin lutut gemetar,” katanya.
Kegiatan komunitas wine sendiri lebih banyak pada ajang kumpul-kumpul dalam suatu acara jamuan. Acara tersebut bisa berlangsung di kafe atau rumah anggota komunitas. Pelaksanaannya lumayan unik. Para anggota, misalnya, diwajibkan membawa koleksi wine-nya untuk diadu. Di tempat acara, saat wine dibuka, maka apresiasi terhadap wine dimulai. Anggota yang membawa wine rusak atau kualitasnya jelek akan dengan mudah diketahui. “Ini yang bikin tiap acara berlangsung menarik,” katanya.
“Hanya beberapa orang di kelompok gua yang tahu soal wine,” kata Iwan Haris. Iwan sendiri mengaku masih banyak belajar soal mengapresiasi wine yang benar. Iwan kerap browsing perihal seluk beluk di jagat wine.
Bagaimana para anggota komunitas mengetahui wine itu berkualitas? Menurut Yohan, selama ini banyak orang menganggap bahwa semakin mahal harga wine maka rasanya semakin baik. Padahal, “tidak semua wine yang bagus itu harganya mahal. Dan tidak semua wine makin lama disimpan akan makin baik kualitasnya,” jelas Yohan.
Wine yang berkualitas, menurut Yohan, memiliki beberapa karakteristik penting. Diantaranya punya aging potential (bisa disimpan), memiliki ciri khas wine (jika Wine Chardonnay maka rasanya harus seperti Wine Chardonnay), serta memiliki rasa yang seimbang dan kompleks.
Untuk mendapatkan wine yang baik, tata cara penyimpanan dinilai sangat penting (lihat Minum Wine Pun Ada Aturannya). “Musuh wine paling utama adalah temperatur yang panas dan temperature swing,” jelas Yohan. Cara menyimpan wine yang baik adalah dalam suhu konstan sekitar 12 hingga 14 derajat Celcius; disimpan di tempat yg gelap; tidak boleh disimpan di tempat yg berbau; dan “jika wine-nya menggunakan sumbat gabus, harus disimpan dalam posisi tidur,” pungkas penulis beberapa artikel mengenai wine di sejumlah majalah ini.
Teks dan Foto: Wisnu Wage
Wisnu Wage adalah penikmat kuliner yang menjadi jurnalis di Majalah Gatra di Bandung
Hi Wisnu. Nama Saya Andi. Saya menawarkan jika Anda berminat membeli (memesan) anggur asli dari Perancis dapat order melalui saya. Saya memiliki kerabat tinggal di Perancis dan saya juga memiliki kerabat pramugari internasional. Dia dapat membawa pesanan minuman anggurnya, tetapi pemesanan berdasarkan yang pernah dia bawa maksimal 3 botol Anggur.
Para pakar wine yang terhormat, saya ingin skali belajar mengenal wine,
punya cara khusus enggak, agar cepat mengerti wine?