
Jimly Asshiddiqie
Siapa tak kenal Jimly Asshiddiqie. Pria kelahiran Palembang, Sumatera Selatan, 17 April 1956 silam, ini adalah orang penting dalam jagat hukum dan demokrasi Indonesia. Ia adalah ketua pertama saat Mahkamah Konstitusi hadir di Indonesia pada 2003.
Anak yang terlahir dari pasangan Haji Asmuni Almansyur dan Hajjah Siti Nasyaroh ini menghabiskan masa kecil secara sederhana di tanah kelahirannya, Palembang. Dan saat hijrah ke Jakarta pada 1977, sembari memasuki dunia hukum di Fakultas Hukum Universitas Indonesia, ia menekuni banyak pekerjaan. Ia memulai dengan menjadi penerjemah di Kedutaan Pakistan dan Kedutaan Mesir, pelatih di sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat, pengajar di banyak universitas, staf ahli menteri-menteriĀ dan wakil presiden, sampai Ketua Mahkamah Konstitusi.
Sementara di dunia pendidikan, begitu memperoleh gelar Sarjana Hukum dari Fakultas Hukum Universitas Indonesia pada 1982, suami dari Tuti Asshiddiqie ini langsung menjadi staf pengajar di tempat tersebut. Di kampus yang sama pula ia memperoleh gelar Magister Hukum pada 1987. Selanjutnya, gelar Doktor Ilmu Hukum ia peroleh pada 1990 juga dari kampus yang sama yang bekerjasama dengan Rechts-faculteit Universiteit dan Van Vollenhoven Institute, Leiden. Pada 1994, ia juga mengambil program Post Graduate Summer Refreshment Course on Legal Theories di Harvard Law School, Cambridge, Massachussett, Amerika Serikat. Selanjutnya, ia mengikuti banyak short courses di dalam dan luar negeri, diantaranya menjadi peneliti tamu pada 1989 di School of Law, University of Washington, Seattle, Amerika Serikat di bawah bimbingan Daniel S Lev.
Konsisten dengan jalur pendidikan membawa ayah dari empat anak ini pada posisi terhormat dalam dunia intelektual. Ia menjadi Guru Besar Penuh Ilmu Hukum Tata Negara Fakultas Hukum Univesitas Indonesia pada 1998. Pada saat dan tempat yang sama, ia juga dipercaya menjadi Ketua dan Penanggungjawab Program Pasca Sarjana Bidang Ilmu Hukum Tata Negara Fakultas Hukum.
Kemampuannya dalam bidang hukum membuatnya terpilih sebagai Ketua Mahkamah Konstitusi periode 2003-2008. Di tangannya, Mahkamah Konstitusi mendapat citra independen lagi modern dari banyak kalangan. Mahkamah menjadi tiang yang kokoh dari goyangan pendulum politik. Tapi di penghujung 2008 lalu, ia mengundurkan diri setelah sempat terpilih lagi sebagai hakim konstitusi untuk periode 2008-2013.
Citra baik yang diperoleh Jimly membuatnya sempat digadang-gadang oleh banyak pihak, diantaranya dari Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia, untuk menjadi calon wakil presiden periode 2009-2014. Dan oleh Majalah Globe Asia, ia ditasbihkan sebagai Man of The Year 2008.
Namun, disamping dunia hukum yang terkenal saklek dan tegas, adakah dunia lain untuk seorang Jimly Asshiddiqie? Bagaimana caranya menyegarkan diri dari dunia yang penuh pemikiran dan peraturan itu? Apa pula pandangannya tentang kebudayaan Indonesia? Berikut petikan wawancara TM. Dhani Iqbal dengan Jimly Asshidiqie yang dilakukan pada 11 Mei 2009.
Setelah tidak lagi di Mahkamah Konsitusi, apakah kesibukan rutin Anda mulai berkurang?
Sekarang saya lebih banyak mengajar, membimbing disertasi, dan menulis buku. Bulan ini saya meluncurkan satu buku, bulan depan ada satu lagi. Seterusnya sudah ada dua buku lain di penerbit.
Sepertinya kehidupan Anda sangat padat oleh aktivitas yang melelahkan pikiran. Apakah Anda punya cara-cara tertentu untuk meliburkan atau menyegarkan diri? Apakah berolahraga, jalan-jalan, atau keluar kota?
Selama ini saya tidak punya tradisi liburan. Itu sebabnya hidup saya murah. Saat libur biasanya saya isi dengan baca atau nulis.

Jimly Asshiddiqie
Di waktu senggang itu, selain menulis dan membaca, adakah jenis liburan lain? Memancing, misalnya?
Saya lebih suka main game di handphone atau main sama anak-anak.
Oya Pak Jimly. Apakah Anda punya komunitas hobi atau komunitas dalam berlibur?
Tidak punya.
Apakah Anda punya hobi? Dan apakah kini ada waktu menjalankan hobi tersebut?
Soal hobi saya tidak ada yang khusus. Biasanya saya olahraga atau apa saja yang bikin keringat. Tapi sekarang saya sedang hobi facebook, heheheā¦.
Apakah Anda lebih senang menghabiskan waktu bersama keluarga atau teman-teman?
Saya lebih senang menghabiskan waktu untuk diskusi dengan teman-teman, membaca, atau menulis.
Apa yang Anda dapat dari kegiatan itu?
Selalu ada ide baru dari kegiatan berdiskusi atau membaca.
Pak Jimly, jika ada waktu senggang sekian hari, kemana Anda ingin pergi atau meliburkan diri?
Saya sangat jarang berlibur. Kalau lagi ada dana, saya lebih suka umroh.
Di Indonesia, tempat wisata mana saja yang sudah Anda kunjungi? Dan mana tempat yang terbaik?
Di dalam negeri saya pernah ke Bali, Bunaken, Samosir, Lombok. Kalau di luar negeri, saya pernah ke Sydney, Los Angeles, New York, London, Paris, Wina, Moscow, Casablanca, Cordoba, Dresden, Berlin, Munchen, Amsterdam, Cairo. Banyak sekali. Tapi itu cuma sambil lalu, bukan khusus untuk liburan.
Di Indonesia sendiri, adakah tempat wisata yang belum Anda kunjungi dan itu menjadi impian?
Tentu masih banyak, mungkin suatu hari ada kesempatan.
Setelah mengunjungi beberapa tempat wisata, tentu Anda sudah bersentuhan langsung dengan banyak sekali kebudayaan di Indonesia. Menurut Anda, kebudayaan manakah yang belum dikelola secara maksimal sebagai kekuatan atau aset pariwisata?
Benar. Pariwisata dan industri kreatif lainnya merupakan salah satu kekuatan bangsa kita yang belum cukup dikembangkan. Sektor itu masih harus ditingkatkan di masa depan.
Di kawasan Asia, ada negara-negara yang kuat dalam identitas-kebudayaannya, seperti Malaysia, Thailand, India, atau China. Indonesia sendiri, yang barangkali karena demikian majemuknya, terkadang tampak gagap dalam menentukan mana yang disebut identitas-kebudayaan bangsanya. Ada banyak orang dari suatu kebudayaan yang merasa didominasi oleh kebudayaan lain. Anda setuju dengan pendapat itu?
Benar. Tapi dalam alam demokrasi modern, semua kebudayaan yang beraneka ragam itu harus diberi kesempatan dan memang punya kesempatan yang sama untuk berkembang dan dikembangkan. Jadi tidah usah risau dengan persaingan dengan siapapun.
Sebagai seorang intelektual, Jimly sudah melahirkan puluhan buku. Diantaranya:
Dunia intelektual yang digelutinya ini berkelindan dengan karir yang ditekuni tahap demi tahap.
Teks: TM. Dhani Iqbal
Foto: Dokumentasi Jimly Asshiddiqie
TM. Dhani Iqbal adalah jurnalis Wisataloka.com
Dari wawancara dgn pak jimly, saya mendapat satu gagasan pentingnya wisata ilmu pengetahuan. Jadi portal ini bisa sekali waktu menyajikan tempat-tempat baca-tulis yang asyik untuk dijadikan alternatif tempat wisata.