Tangkuban Perahu, Peraduan Petualangan

Oleh: Arnellis

Hutan pinus di Jayagiri.

Hutan pinus di Jayagiri.

Saya menyukai perjalanan yang tak terlalu terencana. Jadi, ketika seorang kawan mengajak jalan-jalan, tanpa banyak tanya langsung saya iyakan. Ia hanya mengatakan kami akan ke daerah sekitar Bandung, Jawa Barat. Dan ia mensyaratkan saya untuk membawa baju ganti. Saya pun berinisiatif membawa tas ransel sedang, jaket hangat, dan sandal gunung yang nyaman. Saya pikir, sebuah petualangan akan semakin seru jika segala sesuatu tak mudah diduga.

Menjelang akhir 2009, dari Jakarta, kami berangkat pukul 7 pagi. Sepanjang jalan sengaja saya tak mengumpulkan informasi kemana kami mengarah. Ternyata mobil yang kami tumpangi meluncur menuju Lembang, sebuah daerah yang relatif tak begitu jauh dari Bandung.

Jalanan menanjak dari Bandung bawah ke Bandung atas tampak diramaikan oleh para pesepeda. Para penyuka olahraga sepeda onroad ini berkumpul di sekitar Pasar Lembang. Kami melewatinya begitu saja. Dan tak jauh dari pasar, kami memarkir kendaraan di tempat kuliner Susu Murni atau yang biasa dikenal Sumur. Di tempat ini kawanku mengajak berkemas. Barulah akhirnya saya bertanya, mau kemana kita? Dan ia pun menjawab, “Gunung Tangkuban Perahu.”

Wah, jantung saya mulai terpompa. Tempat yang telah saya kenal sejak kecil lewat legenda cintanya itu sesaat lagi akan saya naiki. Saya akan berjalan kaki menuju puncak gunung setinggi 2084 meter itu. Pengetahuan saya tak banyak tentang gunung ini, kecuali bentuknya yang menangkup seperti perahu terbalik.

Kawah Ratu, Gunung Tangkuban Perahu.

Kawah Ratu, Gunung Tangkuban Perahu.

Saya sengaja tak banyak bertanya seberapa jauh jarak yang akan kami tempuh atau apa saja yang akan kami temui di sana. Saya hanya bersiap-siap dengan sebuah tas pinggang berisi sebotol kecil air mineral. Kami membeli nasi kuning bungkus untuk dimakan di atas nanti.

Dari Susu Murni saya berjalan sedikit menuju sebuah jalan yang terakses ke Hutan Jayagiri. Itulah pintu masuk menuju kawasan Gunung Tangkuban Perahu. Kawan saya bilang, pengunjung dapat juga masuk melalui perkebunan teh di sebelah kiri Jayagiri. Kami menumpang ojek motor, empat ribu rupiah ongkosnya. Jalanan aspal rusak hingga sampai di gerbang Hutan Jayagiri. Di sini kita bisa segera memulai perjalanan setelah membayar tarif empat ribu rupiah per orang. Saat tiba pukul 11 siang WIB, kami memutuskan untuk ngemil bala-bala (makanan kecil khas Bandung) terlebih dahulu di warung dekat gerbang utama.

Setengah jam kemudian kami mulai bergerak. Jalanan dimulai dengan tanah merah sedikit berdebu. Beberapa anak muda bersepeda gunung melintas di tanah yang tak rata. Ternyata tempat ini sering digunakan penyuka sepeda gunung untuk bermain di tanah terjal. Di sepanjang jalan terlihat pipa besi menyembul mengalirkan air jernih dari atas gunung. Beberapa petak lahan terlihat hampir rata dengan tanah. Pohon ditebang dan semak ditebas. Saya bertemu setidaknya lima orang pria membawa rumput dan dedaunan dengan gerobak untuk disuguhkan pada ternaknya. Setelah itu, pohon-pohon pinus memenuhi kiri kanan jalan dengan cantiknya.

Jalan gembur menjadi tantangan pendakian.

Jalan gembur menjadi tantangan pendakian.

Setelah melewati jalanan basah, kami menemui sebuah pertigaan bertanah kering dan berbatu. Saya mengambil jalan kiri yang mengarah ke tower di puncak. Tengah hari udara terasa sungguh panas. Untunglah tadi jaket tidak saya bawa. Panas terus menyengat sepanjang jalan sampai bertemu pertigaan yang cukup luas. Dari sini saya mengambil arah ke kanan menuju puncak.

Di perjalanan saya mengendus bau. Seperti belerang. Padahal puncak masih jauh. Ternyata itu adalah bau asap kendaraan bermotor. Benarlah, tak lama kemudian suara raungan motor terdengar mendekat. Beberapa motor cross lewat dan kami harus menyingkir dari jalan setapak. Senyum sapa terlempar. Saya baru tahu, Tangkuban Perahu sering dijadikan tempat mengadu nyali para motor crosser. Mereka menjajaki jalan setapak tanah merah dan berbatu hingga ke puncak gunung. Sungguh menarik melihat mereka menyusuri kelokan jalan atau mengangkat motor melalui batang pohon yang melintang.

Tanah merah yang saya injak tampak gembur sebab tergerus oleh ban-ban motor yang melintas. Jalan semakin terjal hingga bertemu jalan datar lagi. Di sini bau sulfur benar-benar telah tercium. Saat saya menengok ke kanan, terlihatlah Kawah Ratu yang luar biasa itu. Kawah ini berbentuk mangkok jumbo kehitaman. Sayangnya, beberapa waktu kemudian, kabut menyelimuti kawah hingga saya hanya bisa melihat kabut putih saja. Udara cukup dingin di sore pukul tiga. Kami beristirahat di tanah terbuka dan menyantap bekal yang dibawa.

Para motor crosser sedang bersiap untuk terus mendaki.

Para motor crosser sedang bersiap untuk terus mendaki.

Pukul empat sore, satu dua tetes air kabut memaksa kami untuk beranjak pergi. Jalan yang kami lalui hampir sama dengan jalan berangkat. Hanya saja, kami berbelok ke kiri hingga menjumpai tower. Dari situ kami berjalan menuruni gunung, mengikuti jalan setapak, hingga sampai ke jalan berbatu kuning sebelah kawah. Jalan berbatu seperti ini berakhir di jalan raya aspal yang disebut orang ‘terminal’.

Ini adalah kawasan wisata Tangkuban Perahu yang bisa dengan mudah dicapai dengan kendaraan pribadi atau angkutan umum. Beberapa pedagang makanan dan syal hangat bertebaran. Sejumlah orang tua dan anak-anak berfoto di depan kawah yang sedikit berkabut. Anak-anak muda berjalan terburu-buru sebab rintik air semakin bertubi. Saya menaiki angkutan mobil jenis colt yang menuju ke Lembang bawah. Hujan pun menderas menandai kepulangan saya bertualang.

Teks dan foto: Arnellis
Arnellis adalah seorang guru sekolah dasar di Jakarta Barat

Komentar (11)

  • Jelajah Wisata 2010 The Spirit of Boko 2010

    Buka Pendaftaran

    Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sleman kembali akan menggelar agenda wisata spektakuler yang terbuka untuk umum berupa Jelajah Wisata bertajuk “The Spirit of Boko 2010”, Minggu 18 Juli 2010. Informasi dan pendaftaran di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sleman Yogyakarta Telepon/Faximile (0274) 869613 Website: http://www.tourismsleman.com, Email dan Facebook prtourismsleman@yahoo.co.id, Kantor Kecamatan Prambanan, TIC Jl. Malioboro, dan PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan dan Ratu Boko.

    Menurut Kepala Bidang Pemasaran Pariwisata Dra. Shavitri Nurmala Dewi, MA, pendaftaran akan dibuka pada tanggal 10 Juni 2010. Sedangkan kepesertaan dapat dilakukan secara perorangan maupun kelompok.Pendaftaran perorangan sebesar Rp. 30 ribu dan kelompok per 4 orang sebesar Rp.100 ribu. Setiap peserta akan memperoleh sebuah kaos cantik, snack dan minum, asuransi serta kupon undian doorprize untuk memperebutkan hadiah 2 (dua) sepeda motor Suzuki Smash, sepeda gunung, televisi, handphone,minicompo dan puluhan hadiah lainnya. Ditambahkan pula bahwa untuk peserta beregu mendapat fasilitas tambahan berupa kesempatan memperoleh trophy dan uang pembinaan.

    Yang tidak kalah menarik, setiap peserta akan menyusuri jalur wisata trekking sepanjang 12 kilometer yang berupa jalan setapak melalui pekarangan dan persawahan di sepanjang bukit kawasan Candi Ratu Boko dan sekitarnya dengan medan naik turun yang cukup menantang. Disamping dapat melihat kawasan obyek wisata Candi Ratu Boko, peserta juga akan dapat melihat beberapa obyek wisata lain yaitu diantaranya Candi Barong, Candi Dawangsari, Candi Banyunibo, dan Dam Pandanrejo.

    Secara terpisah Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sleman mengungkapkan bahwa agenda Jelajah Wisata merupakan event tahunan untuk menarik wisatawan baik domestik maupun manca negara untuk berkunjung ke DIY khususnya ke obyek-obyek wisata di Sleman. Pada saat ini wisata trekking sudah menjadi salah satu wisata alternatif yang mulai dilirik banyak kalangan karena menawarkan panorama alami nan asri serta menjadi wahana olah raga sekaligus berwisata. Disamping itu para peserta akan dapat melihat secara langsung Candi Ratu Boko dan kawasan sekitarnya yang menawarkan panorama alami yang masih asri.-


Kirim komentar

Nama *

Mail *

Website