Leeds, Multikultur Sebuah Kota Tua

Menyusuri kota Leeds, Inggris, sama seperti menyusuri dunia yang silam. Kota tua ini bergelut dengan modernisasi tanpa hiruk pikuk, tanpa kotoran kota, dan tanpa menafikkan kebinnekaan.
Malam itu, di Leeds, Inggris, cuaca dingin begitu menusuk pori-pori. Suasana, seperti biasa, tak terlalu hingar oleh suara kendaraan bermotor. Tapi di sebuah play house, suara sirine tiba-tiba menderu-deru. Petanda ada yang tak beres. Anak-anak dan remaja tanggung, yang menjejali gedung tersebut, berlarian keluar.
Mereka yang sedang menikmati drama teatrikal Alice in Wonderland, yang diangkat dari sebuah novel anak-anak abad ke-19, terpaksa menghentikan aktivitasnya. Di pinggir-pinggir gedung, mereka berdiri sembari khawatir telah terjadi kebakaran atau gangguan lainnya. Tapi, eh, jangan-jangan ini ulah teroris yang memang tengah menyundut kepanikkan masyarakat global. Apalagi Inggris menjadi salah satu negara sasaran utama kamikaze para teroris.
Tapi tak berselang lama, mobil pemadam kebakaran tiba di lokasi. Ah, syukurlah, tidak terjadi apa-apa. Setelah diperiksa, ternyata hanya ada kesalahan kecil yang menyebabkan alarm menyeriang.
Selidik punya selidik, peraturan pemerintah memang menetapkan jika ada alarm yang berbunyi di tempat publik, pengunjung wajib segera keluar. Bila tetap bercengkrama, akan dikenai denda ratusan poundsterling. Wow!
Sebelum sirine berbunyi, seorang remaja tanggung, alias anak baru gede (ABG), menyandar tepat di samping pintu utama gedung tersebut. Di tangannya tergenggam beberapa eksemplar majalah film. Seorang satpam sempat menegur dan mengusirnya. Hanya saja dia tetap bergeming di posisinya.
Tapi, dia terlihat tak begitu lincah dan bernafsu saat menyorong-sorongkan dagangannya pada pengunjung yang lalulalang. Ah, apa dia mungkin kikuk hingga tak berani masuk ke lobi gedung? Jadinya, dia tak leluasa laiknya “loper koran” mengobral “kecap” demi mengais rejeki. Oalah, rupanya dia “taat aturan” yang melarang seliweran pedagang “kaki lima” di dalam gedung.
Kuatnya law enforcement pada gilirannya turut merampatkan mentalitas disiplin, budaya antri, penghormatan pada pejalan kaki, dan juga kesantunan. Ada kepedulian dari pemerintah untuk melindungi kenyamanan dan keselamatan warganya. Humanisme dengan adonan penegakkan hukum telah menciptakan “etika sosial” yang populis. Kenyamanan dan keselamatan warga jugalah yang menjadi dasar ketika besarnya beban pajak diimbangi secara elok melalui tunjangan sosial bagi rakyat, termasuk sekolah gratis, dari tingkat dasar sampai menengah atas, serta pengobatan cuma-cuma.
Ah, ini baru sepenggal panorama kota Leeds yang berjarak empat jam melalui darat dari London. Kota dengan jumlah penduduk 800 ribuan itu nampak mengalir menjalani ritus kesehariannya. Dengan supply 60 ribuan mahasiswa di Leeds, tentu menjadi devisa yang berarti dalam menggenjot roda ekonominya. Mahasiswa Indonesia sendiri ada sekitar 80 orang yang tergabung dalam Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI).
Mau tengok-tengok lagi? Di sebelah lain, gedung-gedung tua peninggalan tempo doeloe tegak menjulang dan mempercantik kota. Ada salah satu istana peninggalan raja Hendriks, pendiri Kristen Anglikan pada abad ke-16, berikut rumah-rumah tempat istri-istri raja Hendriks berdiam, yang masih kokoh berdiri. Gereja tua dengan berlarit-larit nisan pekuburan beralas beton yang hanya berpahat tulisan tanpa cungkup. Jembatan yang dibangun oleh Ratu Victoria, ratu gendut yang menorehkan puritanisme Kristiani, nampak seolah membelah sungai Aire yang dulu menjadi sarana lalulintas di Eropa. Kampus University of Leeds yang berdiri ratusan tahun silam yang bangunan gedung utamanya mengingatkan pada bangunan ala Acropolis Yunani Kuno.
Mal di pusat kota dipermak tanpa menanggalkan polesan arsitektural lama. Ada juga Leeds Market yang menyediakan beraneka kebutuhan pokok maupun sekunder yang terjangkau bagi kocek kalangan menengah ke bawah. Di pasar ini dulunya dua sahabat, Mark dan Spencer, mengawali usahanya, dan kini merek fashion itu begitu mendunia dan jadi brand image. Di Leeds ada Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) bernama Civic Trust yang bergerak melestarikan peninggalan kuno serta mendorong pemerintah untuk membangun secara hati-hati dalam proses modernisasi dan planologi kota.
Kota yang dulunya dikenal sebagai penghasil wol dan industri kereta api di Eropa ini rasanya tidak beralih rupa. Jejak-jejak warisan lama masih terpendar dan menggigit. Memasuki Leeds seakan menikmati aura kehidupan abad silam. Kemegahan situs-situs kuno juga menampak di kota-kota lainnya, seperti Notingham, Birmingham, Manchester, York, Liverpool, Newcastel, Yorkshire, Skiptown, dan London. Inggris, negeri yang pernah disemati sebagai penakluk dunia ini, rupanya tak ingin begitu saja mengikis tapak-tapak monumental kesejarahannya.
***

Leeds tidaklah berwajah tunggal. Kota peninggalan raja George pada abad ke-18 ini kini menampung beragam etnik dan agama. Semuanya bersandar, menyulam hidup, dan merenda jati diri di tengah mayoritas masyarakat kulit putih yang konon berasal dari ras Aria-Jermania dan sebagian dari ras Wales. Gereja, Masjid, Sinagog dan kuil berbanjar harmonis dalam dengusan sekulerisasi dan pijakan demokrasi. Senyampang itu, keberadaan sex shop, bar-bar yang menyajikan tarian striptease, dan beragam hiburan penyedot syahwat di “kawasan merah” turut memekakkan kehidupan malam Leeds. Kalau malu-malu, cukuplah sekedar cuci mata dengan memelototi atau membolak-balik majalah-majalah erotis yang mudah dijumpai di stasiun, bandara, mal, hingga di toko-toko kampus. Pendeknya, kebebasan, baik dalam soal keyakinan maupun kemanusiaan, diberi tempat layak. Yang penting, tidak membuat onar atau mengusik kenyamanan hidup bermasyarakat.
Mau tongkrongan sembari menyantap hidangan? Mampirlah di China town yang menggeber restoran khas makanan China. Bagi yang takut ketiban makanan haram, datang saja ke restoran yang menghidangkan menu halal food yang bertebaran. Ada kedai makan berpapan nama Flame yang punya cabang di berbagai kota milik imigran Pakistan dan menerapkan sistem take away, alias makanannya bisa ditenteng pulang. Di London, ada restoran bernama Mawar milik orang Malaysia yang biasa menjadi jujugan puak Melayu. Di warung itulah saya bertemu dengan tiga tenaga kerja wanita (TKW) asal pulau Jawa. Para “pahlawan devisa” ini awalnya bekerja di Arab. Tapi sewaktu diajak majikannya pindah ke London, mereka kabur dan nekat mencari kerjaan sendiri. Ah, nasib sering menjerang semangat “berjibaku” di negeri orang, dari pada terpanggang derita di negeri sendiri.
Memasuki kota Leeds selaksa menghirup udara kelampauan, merefleksi tapak-tapak masyarakat Leeds di masa silam. Dan tapak-tapak itu tetap menggoreskan ketenangan sekaligus pergerakan yang saling berkelindan. Ketertiban dan kebersihan kota mencerminkan bahwa di sana ada paprasan mentalitas serta kebijakan yang telah menyungsum. Aneka ragam etnik maupun agama kian membuncahkan kebinekaan yang tetap manunggal. Kejamakan teranyam dalam harmonisasi, tanpa perlu mengulak-alik teks-teks yang berseteru yang hanya memicu kealpaan dan kepandiran. Belajar pada kelampauan dan kejamakan akan mampu menyerap kearifan yang adiluhung. Ups, datang dan buktikan saja.
Teks: Soffa Ihsan
Foto: Dokumentas Soffa Ihsan
Soffa Ihsan adalah Redaktur Wisataloka.com di Jakarta
Kapan ya bisa wisata ke Leeds, Inngris? Tapi saya lebih tertarik jika ke Inngris mengunjungi Kota London (London Barat) menyaksikan laga Chelsea melumat lawan-lawannya di Liga Inggris.