Majapahit Travel Fair

Majapahit Travel Fair
300 penabuh tampak begitu bersemangat memainkan musik Tong-tong. Nadanya dinamis, lincah, dan gegap gempita. Ada watak dan kehidupan masyarakat Jawa Timur yang tergambar dari kelugasan bunyi-bunyian itu.
Kemenarikan musik yang berasal dari Sampang, Madura, ini tidak saja dirasakan dari bunyi-bunyian yang dihasilkannya, tetapi juga dari sejarahnya. Musik ini lahir pada 1999 ketika listrik yang menghubungkan Pulau Jawa dan Madura putus. Madura gelap gulita selama berbulan-bulan. Kriminalitas menjadi marak terjadi. Menyikapi hal ini, masyarakat Madura berinisiatif melakukan keamanan lingkungan secara kolektif.
Untuk mengajak masyarakat lain, mereka membuat peralatan sederhana sebagai alat komunikasi. Bisa berasal dari bambu, gentong, ataupun tong-tong bekas. Alat-alat ini kemudian dimainkan layaknya alat musik perkusi. Dan sejak itu pulalah tong-tong atau patrol tersebut dikenal sebagai sebuah musik.
Musik Tong-tong ini dimainkan dalam acara Majapahit Travel Fair (MTF) ke-10 yang berlangsung akhir Mei 2009 di Surabaya, Jawa Timur. Majapahit Travel Fair ini memang mengambil tema Partnering for Creative Industry. Dan itu dinilai sesuai dengan kreativitas yang diusung oleh musik Tong-tong.
Wakil Gubernur Jawa Timur Saifullah Yusuf yang membuka acara Majapahit Travel Fair tersebut mengatakan bahwa usaha kreatif perlu dilakukan agar turis terdorong untuk kembali ke Jawa Timur. Dan ajang semacam ini diharapkan dapat mendukung pengembangan industri kreatif.
Dalam kesempatan itu, Saifullah juga memberikan penghargaan dari Museum Rekor Indonesia (MURI) kepada para penabuh musik Tong-tong yang diterima oleh Bupati Sampang-Madura. Selain itu, penghargaan Museum juga diberikan wakil gubernur itu kepada Paguyuban Pengerajin Jenang Apel dari Kota Batu, Malang, untuk jenang apel berukuran 2 x 2 meter.
Jenang apel ukuran besar itu dibentuk menyerupai lambang Kota Batu. Tujuannya tak lain untuk lebih mempopulerkan Kota Batu sebagai kota penghasil apel. Selama ini Kota Batu memang dikenal dengan nama kota apel. Oleh para pengrajin, buah ini kerap dikreasikan menjadi berbagai macam panganan, baik makanan maupun minuman.
Majapahit Travel Fair ini juga dimeriahkan oleh lomba kidungan. Kidungan merupakan kesenian khas Surabaya yang berisi tembang pantun jenaka sembari diiringi musik tradisional Suroboyoan. Biasanya, kidungan dinyanyikan saat membuka acara kesenian Ludruk. Ludruk adalah kesenian dagelan dengan bahasa Surabaya. Pantun yang dilagukan berisi syair jenaka namun berisi nasehat.
Selain itu, berbagai kesenian dari seluruh Indonesia juga turut menghiasi Majapahit Travel Fair ini, diantaranya dari Aceh, Jakarta, dan Banten.
Ada antusiasme yang terasa pada perhelatan Majapahit Travel Fair yang digelar tahun ini. Ini terlihat dari jumlah peserta yang mencapai target. Jika tahun lalu acara serupa dihadiri oleh tujuh provinsi, maka kali ini diikuti oleh 13 provinsi. Peningkatan serupa juga terjadi pada jumlah pengunjung.
“Untuk saat ini, beberapa target yang sudah kami rencanakan dapat terlaksana dengan banyaknya tamu, media yang meliput, peserta pameran, dan ada dua rekor MURI terpecahkan. Ini menunjukkan suatu peningkatan dari tahun lalu,” kata Ketua Panitia Majapahit Travel Fair ke-10 yang juga Kepala Bagian Pemasaran Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur, Sunarmaji.
Teks dan foto: Amelia Wulan P
Amelia Wulan P adalah perwakilan Wisataloka.com di Jawa Timur dan Jawa Tengah
Surabaya adalah kota diluar Jakarta paling sering saya kunjungi. Tapi bukan karena kunjungan wisata, tapi kunjungan keluarga. Di Kota Surabaya, orang kakak saya bekerja. Info wisata di Surabaya tidak banyak saya tahu. Kayaknya pemerintah kota Surabaya kurang promosi atau saya yang kurang rajin cari info wisata Surabaya.