Rute Kerajaan Majapahit, 650 Tahun Lalu

Oleh: Amelia Wulan P

Kakawin Negarakertagama

Kakawin Negarakertagama

Dalam catatan sejarah, kerajaan Majapahit pernah dikenal sebagai pusat ekonomi dan budaya di sejumlah kawasan di Nusantara. Kejayaannya terjadi saat ia berada dibawah pemerintahan Raja Hayam Wuruk. Salah satu sumber pengetahuan utama tentang kerajaan Majapahit pada abad ke-14 itu terdapat pada Kakawin Nagarakretagama (Desawarnana). Naskah kuno itu ditulis oleh Mpu Prapanca dengan huruf dan bahasa  Bali Kuno. Salah satu topik utamanya adalah kunjungan kerja Raja Hayam Wuruk beserta keluarga dan pejabat tingginya ke wilayah kekuasaannya di bagian timur Jawa pada sekitar September - Desember 1359 Masehi.

Dalam perjalanannya, raja menyinggahi kerajaan fasa, yakni kerajaan kecil  yang mengakui  dan takluk atas kerajaan Majapahit. Kerajaan-kerajaan itu diantaranya Mataun, Sadden, Wengker, Jenggala, Pajang, dan Mataram. Raja juga singgah ke daerah pemukiman seperti desa Pandanwangi kecamatan Tempeh, di sebuah pantai yang dinamakan Bambang.

Kejadian perjalanan mengelilingi wilayah kekuasaan Majalahit di timur Jawa itu terjadi tepat pada bulan September 650 tahun yang lalu. Dan untuk memperingatinya, Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Surabaya menggelar beberapa kegiatan yang berhubungan dengan peristiwa tersebut.

Gapura Bajang Ratu

Gapura Bajang Ratu

Salah satu kegiatan Fakultas tersebut adalah menggelar pameran foto Nigel Bullough yang bertemakan “650 tahun rute Majapahit”. Foto-foto Nigel dipamerkan di galeri Seni di House of Sampoerna, Surabaya, mulai 10 September hingga 4 Oktober 2009. Tujuannya, kata Manajer House of Sampoerna, Rani Anggraini, adalah untuk mendorong generasi muda supaya melakukan riset-riset eksploitasi kekayaan budaya kita.

Nigel Bullough, yang memiliki nama Indonesia Hadi Sidomulyo, adalah seorang budayawan kelahiran Inggris pada 1952 yang melakukan riset dan dokumentasi “napak tilas” perjalanan Hayam Wuruk tersebut berdasarkan Kakawin Nagarakretagama (Desawarnana). Ia merekam keadaan desa-desa, lingkungan alam serta bangunan suci peninggalan Majapahit dalam 43 karya foto eksklusif.

Nigel sudah sejak lama mencoba mengeksplorasi khazanah kebudayaan dan sejarah Jawa. Pada 1986 - 1988, ia bekerjasama dengan Kantor Wilayah Pariwisata, Pos, dan Telekomunikasi Daerah Istimewa Yogyakarta untuk mempromosikan wisata budaya di Yogyjakarta dan Jawa Tengah. Dan pada 1989 - 1994, ia menjadi anggota Tim Penyusun Buku Promosi Pariwisata Jawa Timur. Selain itu, ia juga telah menulis sejumlah buku maupun artikel yang menyangkut sejarah dan budaya Jawa, seperti Discovering East Java (1990), The Glorius Century (1991), Walisongo Pilgrimage (1992), Memories of Majapahit (1994), Historic East Java (1995) serta Napak Tilas Perjalanan Mpu Prapanca (2007) yang menjadi sumber tertulis dari pameran ini. Kini ayah satu putri ini bergabung dengan Yayasan Nandiswara yang berpusat di Jakarta dan bergerak di bidang dokumentasi Publikasi serta Pelestarian Budaya Nusantara.

Gapura Wringin Lawang

Gapura Wringin Lawang

Selain pameran foto, rangkaian acara peringatan 650 tahun rute Majapahit ini juga diisi dengan seminar dan pameran artefak Majapahit di Balai Pemuda pada 5 - 9 September 2009. Sedangkan pada 30 September 2009 di Function Hall di House of Sampoerna, seminar dilanjutkan dengan tema “Jurnalisme Prapanca dan Prospek Pariwisata Rute Majapahit”.

“Jawa Timur, kata Hanan Pamungkas, dosen Jurusan Pendidikan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Surabaya yang juga ketua panitia kegiatan, “memiliki aset sejarah yang menyimpan berbagai peristiwa, tidak hanya wisata raja, tetapi juga peristiwa sosial budaya yang menarik yang digunakan untuk mengembangkan potensi wisata dan budaya di sepanjang rute perjalanan Hayam Wuruk. Melalui pameran ini dapat kita saksikan bahwa Nigel Bullough berhasil merekam sisa-sisa kekayaan tersebut melalui penelitian dan hasil fotografinya.”

Pada kesempatan itu, Hanan yang juga ketua panitia kegiatan ini mengatakan agar rute Majapahit ini dikembangkan sebagai simbol pariwisata baru di Jawa Timur. Caranya adalah dengan menonjolkan berbagai sisi, entah itu alam, seni, dan budaya, yang mendukung identitas masing-masing daerah yang dilalui Raja Hayam Wuruk.

Teks dan foto: Amelia Wulan P
Amelia Wulan P adalah perwakilan Wisataloka.com di Jawa Timur dan Jawa Tengah

Komentar (8)


Kirim komentar

Nama *

Mail *

Website