Siluet di Pulau Tidung

Rona langit pagi berhiaskan panorama Tidung Besar.
Saya seperti kena hipnotis. Pulau Tidung ini begitu cantik. Panoramanya melukiskan gradasi dari perpaduan elemen alam yang saling melengkapi. Laut yang membiru kehijauan mengharmoni dengan langit cemerlang dan pepohonan rindang.
Pulau Tidung terletak di Kepulauan Seribu Selatan bagian barat. Pulau yang merupakan bagian dari Jakarta ini terdiri dari dua pulau, yakni Tidung Besar dan Tidung Kecil. Untuk mencapainya, saya dan beberapa kawan berangkat dari pelabuhan Muara Angke, yang juga berada di Jakarta, dengan menggunakan public boat dengan tarif Rp 33 ribu per orang. Dari Muara Angke, kapal berangkat setiap pagi hari pukul 07.15 Waktu Indonesia Barat (WIB).
Waktu tempuhnya relatif lama, yakni sekitar tiga jam. Tapi jangan khawatir dengan kebosanan. Sebab, di sepanjang perjalanan, pulau-pulau akan menjadi pemandangan yang menarik, termasuk rombongan burung-burung yang mencari ikan di laut.
Sesampainya di pelabuhan Tidung Besar, saya dan kawan-kawan berjalan kaki menuju penginapan. Rencananya kami akan tinggal selama dua hari satu malam. Di sini hanya ada tiga penginapan yang umumnya berupa rumah dengan satu atau dua kamar tidur, kamar mandi, dapur, dan teras belakang yang langsung bertepikan pantai. Tarifnya berkisar Rp 200 ribu sampai Rp 300 ribu per malam.
Setelah menaruh barang-barang, kami menyusuri Tidung Besar hingga ke ujung barat. Kami melihat beberapa penduduk menyediakan sepeda yang disewakan per hari dengan tarif Rp 10 ribu per sepeda. Tapi kami harus hati-hati. Diantara sepeda tersebut ada yang tidak memiliki fungsi rem baik.

Pulau Tidung dapat dijelajahi dengan sepeda.
Bersepeda di pulau ini terbilang mudah dan sangat menarik. Sebab, meskipun medannya berupa jalan datar, bahkan di kawasan rumah penduduk jalannya berupa paving block, pemandangan kiri dan kanan kebanyakan berupa barisan pohon kelapa dan cemara hijau nan asri.
Di sepanjang jalan juga terlihat infrastruktur yang cukup rapi dan teratur. Misalnya puskesmas dan kantor kelurahan yang berarsitektur senada, serta beragam bangunan sekolah dengan tingkat kebersihan dan kenyamanan yang baik. Saat berada di salah satu sisi pantai, saya menyempatkan diri berhenti demi menikmati air kelapa murni dari pohonnya sembari mengabadikan perjalanan dengan memotret keindahan landscape (lihat Tidung, Pulau yang Tersembunyi).
Puas mengitari Tidung Besar, kami menuju jembatan yang menghubungkan pulau tersebut dengan Tidung Kecil. Jembatan yang terbuat dari kayu ini membentuk banyak kelokan dan lengkungan sepanjang ratusan meter. Jembatan inilah tempat terbaik untuk membuai diri dengan pesona Pulau Tidung secara keseluruhan.
Ketika keluar dari kawasan Tidung Besar dan melangkah menuju jembatan, berdiri sebuah toko souvenir yang menjual aneka macam kerajinan tangan dan oleh-oleh khas Pulau Tidung. Beberapa puluh meter dari toko, terdapat jalan yang memanjang ke kanan sebagai spot terbaik jika ingin menikmati sunset dan sunrise. Perahu nelayan juga tersedia sebagai transportasi penyeberangan menuju karamba ikan yang terletak di kedua sisi jembatan.
Sekeliling karamba ikan tersebut merupakan tempat yang baik untuk melakukan aktivitas snorkeling. Namun, menurut beberapa teman, di Tidung Kecil pun terdapat snorkeling spot yang lebih baik dan memiliki ragam ikan bervariasi. Sayangnya hari sudah hampir petang maka saya memilih untuk duduk bersantai menunggu sunset datang.
Benar saja. Langit yang perlahan berwarna jingga kemerahan lantas membentuk berbagai siluet cantik dan menyinari lautan. Tak hanya itu, kami pun berkesempatan menikmati cahaya bulan purnama yang menyorot laut dengan sinar putih keperakan. Saat itu kami bersama dengan pengunjung yang mencari ikan - sebab periode ini adalah tepat untuk memancing. Hari yang semakin gelap mengingatkan kami untuk pulang ke penginapan.

Jembatan penghubung antara Tidung Kecil dengan Tidung Besar.
Pukul lima pagi keesokan harinya kami kembali lagi menuju jembatan demi menyambut sunrise. Sesampainya di tempat tujuan, kami nyaris kecewa karena awan gelap sempat menutup. Tetapi karena tak mau menyerah begitu saja, penantian pun tidak sia-sia. Di ufuk timur, sang mentari mulai meronai langit dan bumi dengan sinar keemasannya. Semangat kami pun terpompa kembali.
Pada pagi hari yang cerah seperti ini, penduduk lokal biasanya turut bersantai di pantai untuk sekedar duduk di tepian atau berenang bersama anak-anak mereka. Memancing juga menjadi salah satu aktivitas rutin para penduduk.

Matahari mulai mengintip.
Sayangnya kami harus pulang ke Jakarta sangat awal, karena seperti saat menuju ke Pulau Tidung, public boat kembali ke Muara Angke juga hanya sekali sehari, yaitu pukul 07:30 WIB. Sebelumnya saya dan seorang teman menyempatkan diri untuk mampir ke sebuah rumah yang juga menjual beraneka ragam oleh-oleh berupa makanan ringan khas Pulau Tidung, seperti dodol dan manisan rumput laut serta keripik sukun.
Meskipun cukup singkat, namun perjalanan ini sungguh tak terlupakan. Perjalanan ini mengenalkan saya pada keindahan yang belum banyak terekspos di tengah masyarakat.
Teks dan foto: Novieta Tourisia
Novieta Tourisia adalah perwakilan Wisataloka.com di Bali
Boleh minta paket tournya gak??? Kirim ke email aku dunk….^_^
Thanks