Catatan Kaki dari Batavia

Oleh: Wisataloka

Get the Flash Player to see this player.

Ada banyak cerita dari gedung yang kini bernama Museum Fatahillah. Gedung yang berada di Jakarta ini adalah saksi dari praktek penjajahan yang dilakukan oleh negeri Belanda terhadap bangsa Indonesia. Jika memasuki museum ini dari pintu utama, Anda akan menyaksikan ruangan-ruangan nan mewah, tidak saja bagi pejabat Belanda, tetapi juga bagi keluarga-keluarga mereka.

Sementara itu, di bagian bawah museum ini, ada ruang-ruang yang sangat sempit dan gelap yang dijadikan penjara. Namun, penjara itu tidak hanya diperuntukkan bagi pejuang-pejuang Indonesia. Hadir bersama pejuang-pejuang itu adalah orang-orang gila dan kelompok perlawanan dari etnis China.

Museum ini terletak di daerah yang dikenal dengan kawasan Kota Tua. Di sekelilingnya berdiri sejumlah gedung yang juga bersejarah. Diantaranya adalah Museum Bank Mandiri. Semula, ini adalah gedung Nederlandsche Handel-Maatschappij (NHM), atau Factorji Batavia, yang merupakan perusahaan dagang milik Belanda yang kemudian berkembang menjadi perusahaan di bidang perbankan.

Sementara itu, di sayap kanan Museum Fatahillah, berdiri Museum Seni rupa dan Keramik. Gedung ini dibangun pada 12 Januari 1870 dan menjadi Kantor Dewan Kehakiman pada Benteng Batavia (Ordinaris Raad van Justitie Binnen Het Kasteel Batavia).

Tak jauh dari Museum Fatahillah, ada pula Stasiun kereta api tua yang kini dikenal dengan nama Stasiun Beos. Tidak banyak yang tahu kenapa Stasiun ini dinamakan Beos. Ada bebarapa versi tentang ini. Diantaranya menyebutkan Beos berasal dari kata Batavia En Omstreken. Artinya adalah Batavia dan Sekitarnya, yang merujuk pada fungsi stasiun sebagai pusat transportasi kereta api yang menghubungkan Kota Batavia dengan kota lain, seperti Bekassie (Bekasi), Buitenzorg (Bogor), Parijs van Java (Bandung), dan Karavam (Karawang).

Di kawasan ini pula pemerintah kolonial Belanda melakukan aktivitas pengangkutan rempah-rempah milik Indonesia untuk dibawa ke negeri Belanda. Seluruh kapal dagang VOC masuk ke Pelabuhan Sunda Kelapa melalui sebuah gerbang yang dikenal dengan nama Jembatan Kota Intan.

Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini.


Kirim komentar

Nama *

Mail *

Website