Bandung bukan hanya terkenal dengan cafe kekinian dan kuliner viral. Kota ini juga punya banyak jajanan tradisional yang sudah bertahan lintas generasi dan tetap mudah ditemukan sampai sekarang. Sebagian besar berasal dari bahan sederhana seperti tepung beras, singkong, tepung tapioka, kelapa, dan gula merah, tetapi cita rasanya punya karakter kuat yang sulit digantikan makanan modern.
Jajanan tradisional Bandung juga identik dengan budaya kuliner Sunda. Ada yang manis seperti peuyeum dan awug, ada yang gurih seperti bandros, hingga jajanan berbahan aci seperti cireng yang kemudian berkembang dengan banyak variasi baru. Bahkan pada 2026, Pemerintah Kota Bandung masih menempatkan cireng dan surabi sebagai bagian dari kuliner ikonik Bandung.
Buat wisatawan, mencicipi jajanan tradisional bisa menjadi cara sederhana mengenal sisi Bandung yang lebih autentik. Berikut sembilan jajanan yang cocok dicari di pasar tradisional, pedagang kaki lima, sentra kuliner, maupun toko oleh-oleh.
1. Surabi Bandung
Surabi menjadi salah satu jajanan tradisional paling identik dengan Bandung. Versi klasik dibuat dari adonan tepung beras dan santan kemudian dimasak menggunakan cetakan tanah liat sehingga menghasilkan aroma khas.
Surabi tradisional dapat disajikan manis dengan kinca gula merah maupun gurih dengan oncom. Kini topping-nya memang semakin beragam, tetapi versi sederhana justru paling menarik jika ingin mencicipi rasa autentiknya.
Ciri Khas: Tekstur lembut, bagian bawah sedikit kecokelatan, aroma santan, dan proses memasak tradisional.
Varian Populer: Surabi kinca, surabi oncom, dan surabi telur.
Kisaran Harga: Mulai sekitar Rp5.000–Rp15.000 per buah.
Cocok Dinikmati: Pagi atau sore bersama teh maupun kopi.
2. Peuyeum Bandung
Peuyeum merupakan singkong fermentasi yang sudah lama menjadi salah satu oleh-oleh khas Bandung. Teksturnya lembut dengan rasa manis dan sedikit sensasi fermentasi yang membuatnya berbeda dari singkong biasa.
Peuyeum juga sering terlihat digantung di kios-kios oleh-oleh. Selain dimakan langsung, jajanan ini dapat diolah kembali menjadi peuyeum goreng atau campuran makanan manis.
Ciri Khas: Singkong fermentasi bertekstur lembut dengan aroma khas.
Varian Populer: Peuyeum gantung dan peuyeum goreng.
Kisaran Harga: Umumnya dijual per ikat atau berat dengan harga bervariasi.
Cocok Dinikmati: Sebagai camilan atau oleh-oleh khas Bandung.
3. Colenak
Colenak merupakan olahan peuyeum yang dibakar kemudian disajikan dengan saus gula merah dan kelapa parut. Namanya sering dikaitkan dengan ungkapan Sunda yang berarti “dicocol enak”.
Perpaduan rasa manis, sedikit asam dari fermentasi, aroma bakaran, dan gurihnya kelapa membuat colenak punya karakter yang sangat khas. Jajanan ini cocok untuk wisatawan yang ingin menikmati peuyeum dalam versi berbeda.
Ciri Khas: Peuyeum bakar dengan gula merah dan kelapa.
Rasa: Manis, legit, gurih, dan sedikit smoky.
Kisaran Harga: Sekitar Rp15.000–Rp30.000 per porsi.
Cocok Dinikmati: Sore hari bersama minuman hangat.
4. Cireng
Cireng berasal dari singkatan aci digoreng. Jajanan berbahan tepung tapioka ini memiliki bagian luar yang sedikit renyah dan bagian dalam kenyal. Cireng sampai sekarang tetap menjadi salah satu jajanan khas Bandung yang sangat populer.
Versi tradisional biasanya sederhana tanpa isian, kemudian disantap dengan sambal atau bumbu kacang. Kini tersedia berbagai cireng isi seperti ayam, keju, dan abon.
Ciri Khas: Terbuat dari aci, renyah di luar dan kenyal di dalam.
Varian Populer: Cireng original, cireng isi, dan cireng bumbu rujak.
Kisaran Harga: Mulai sekitar Rp2.000–Rp10.000 per buah atau porsi.
Cocok Dinikmati: Saat masih panas.
5. Bandros
Bandros merupakan jajanan tradisional Sunda berbahan tepung beras dan kelapa parut yang dimasak dalam cetakan khusus. Bentuknya memanjang dengan bagian luar agak kecokelatan.
Versi klasik biasanya memiliki rasa gurih dan dapat diberi taburan gula pasir. Aroma kelapa yang terkena panas menjadi salah satu ciri khas yang membuat bandros terasa sederhana tetapi nagih.
Ciri Khas: Tepung beras dan kelapa dengan aroma panggang.
Rasa: Gurih dengan pilihan tambahan gula.
Kisaran Harga: Sekitar Rp5.000–Rp15.000 per porsi.
Cocok Dinikmati: Hangat pada pagi atau sore hari.
6. Awug
Awug merupakan jajanan tradisional yang dibuat menggunakan tepung beras, kelapa parut, dan gula merah. Adonan biasanya disusun berlapis kemudian dikukus hingga menghasilkan tekstur lembut dan aroma gula merah yang kuat.
Tampilannya sederhana, tetapi rasa gurih kelapa dan manis gula merah membuat awug sangat cocok disantap bersama teh panas. Jajanan ini masih dapat ditemukan di pasar maupun penjual makanan tradisional.
Ciri Khas: Tepung beras kukus, kelapa, dan gula merah.
Rasa: Manis, gurih, dan harum.
Kisaran Harga: Sekitar Rp5.000–Rp15.000 per porsi.
Cocok Dinikmati: Pagi atau sore.
7. Combro
Combro dibuat dari singkong parut dengan isian oncom berbumbu, lalu digoreng hingga bagian luar kecokelatan. Namanya berasal dari istilah Sunda oncom di jero atau oncom di dalam.
Rasanya gurih dan pada beberapa versi terasa cukup pedas. Tekstur singkong yang renyah di luar tetapi lembut di bagian dalam membuat combro cocok dijadikan teman minum teh.
Ciri Khas: Singkong parut dengan isian oncom.
Rasa: Gurih, pedas, dan sedikit manis dari singkong.
Kisaran Harga: Sekitar Rp2.000–Rp5.000 per buah.
Cocok Dinikmati: Selagi masih hangat.
8. Misro
Kalau combro identik dengan rasa gurih, misro merupakan pasangannya dalam versi manis. Bahan luarnya sama-sama menggunakan singkong parut, tetapi bagian tengahnya diisi gula merah.
Saat digoreng, gula di dalamnya meleleh dan memberikan rasa manis yang kontras dengan singkong. Nama misro berasal dari istilah Sunda amis di jero, yang berarti manis di dalam.
Ciri Khas: Singkong parut dengan gula merah di bagian tengah.
Rasa: Manis dan gurih.
Kisaran Harga: Sekitar Rp2.000–Rp5.000 per buah.
Cocok Dinikmati: Hangat bersama kopi atau teh.
9. Gehu
Gehu merupakan tahu goreng berisi tauge dan sayuran yang sangat mudah ditemukan di Bandung. Indonesia Travel juga mencatat gehu sebagai salah satu jajanan panas yang populer di kota ini.
Versi tradisional memiliki rasa gurih dengan isian sayuran sederhana. Belakangan muncul gehu pedas dengan isi lebih banyak, tetapi versi klasik tetap menarik untuk menikmati jajanan Sunda yang sederhana.
Ciri Khas: Tahu goreng dengan isian tauge dan sayuran.
Rasa: Gurih dengan tekstur renyah di luar.
Kisaran Harga: Sekitar Rp2.000–Rp5.000 per buah.
Cocok Dinikmati: Sore hari selagi hangat.
Penutup
Jajanan tradisional Bandung punya kekuatan pada bahan sederhana dan cita rasa yang sudah akrab dengan kehidupan masyarakat Sunda. Surabi, peuyeum, colenak, bandros, hingga awug lebih menonjolkan rasa tradisional, sementara cireng, combro, misro, dan gehu cocok untuk pencinta gorengan gurih.
Kalau baru pertama berburu kuliner tradisional Bandung, prioritaskan surabi, peuyeum, colenak, bandros, dan cireng. Setelah itu, lanjutkan dengan jajanan pasar seperti awug, combro, misro, dan gehu untuk mendapatkan pengalaman kuliner Bandung yang lebih lengkap.
Keyword Terkait: jajanan Bandung tradisional, jajanan khas Bandung, makanan tradisional Bandung, jajanan Sunda Bandung, kuliner tradisional Bandung, jajanan Bandung legendaris, makanan khas Bandung, jajanan pasar Bandung, kuliner Bandung, jajanan khas Jawa Barat.
