Geopark Ciletuh atau secara resmi Ciletuh–Palabuhanratu UNESCO Global Geopark merupakan kawasan geowisata berskala besar di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Destinasi ini memadukan bentang alam berbentuk amfiteater raksasa, pantai Samudra Hindia, air terjun, tebing, batuan purba, kawasan pedesaan, hingga warisan budaya masyarakat. UNESCO mencatat luas kawasan sekitar 126.000 hektare dan status UNESCO Global Geopark telah disandang sejak 2018.
Memasuki 2026, status internasional Ciletuh–Palabuhanratu kembali diperkuat. Hasil revalidasi memberikan Green Card UNESCO untuk periode 2026–2029, yang berarti kawasan ini dinilai memenuhi standar pengelolaan geopark dalam konservasi, edukasi, dan pembangunan berkelanjutan berbasis masyarakat.
Keistimewaan Geopark Ciletuh adalah wisatawan tidak datang ke satu objek saja. Kawasan ini terdiri atas banyak geosite dan destinasi yang tersebar luas, sehingga perjalanan ideal sebaiknya berlangsung setidaknya satu hingga dua hari. Puncak Darma, Pantai Palangpang, Curug Cimarinjung, Curug Sodong, Curug Awang, hingga berbagai bentang pantai menjadi bagian pengalaman menjelajahi wisata Sukabumi yang berbeda dari kawasan wisata biasa.
Poin Penting Geopark Ciletuh
Lokasi: Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat
Nama resmi: Ciletuh–Palabuhanratu UNESCO Global Geopark
Status: UNESCO Global Geopark
Tahun penetapan UNESCO: 2018
Status terbaru: Green Card UNESCO periode 2026–2029
Luas kawasan: Sekitar 126.000 hektare
Daya tarik utama: Amfiteater alam, batuan purba, air terjun, pantai, perbukitan, budaya lokal, dan geowisata
Spot populer: Puncak Darma, Pantai Palangpang, Curug Cimarinjung, Curug Sodong, Curug Awang
Harga tiket: Tidak ada satu tiket terpadu untuk seluruh geopark; biaya berbeda pada setiap destinasi
Jam buka: Tidak mempunyai satu jam operasional terpadu; mengikuti masing-masing objek wisata
Durasi ideal: 2–3 hari
Waktu terbaik: Pagi hingga sore dan cuaca cerah
Cocok untuk: Keluarga, pasangan, komunitas, fotografer, pencinta geologi, road trip, dan wisata alam
Transportasi: Kendaraan pribadi paling praktis
Karakter perjalanan: Jarak antarobjek cukup jauh sehingga itinerary perlu disusun dengan baik
Catatan Penting
Geopark Ciletuh bukan taman wisata yang memiliki satu pintu masuk, satu loket tiket, dan satu jam operasional. Kawasan geopark membentang sangat luas dan terdiri dari berbagai desa, pantai, air terjun, geosite, titik pandang, serta kawasan budaya. Karena itu, tidak ada satu harga tiket Geopark Ciletuh 2026 yang berlaku untuk seluruh kawasan.
Beberapa tempat dapat dikunjungi tanpa tiket kawasan, sedangkan objek tertentu mempunyai tiket masuk, parkir, jasa pemandu, atau biaya fasilitas masing-masing. Nominal dapat berubah sehingga tarif sebaiknya diperiksa kembali di lokasi.
Cuaca juga perlu diperhatikan. Beberapa air terjun mempunyai jalur berbatu yang dapat licin setelah hujan. Kawasan pantai selatan mempunyai ombak Samudra Hindia yang kuat, sehingga pengunjung wajib mematuhi peringatan keselamatan dan tidak berenang sembarangan.
Lokasi Geopark Ciletuh
Ciletuh–Palabuhanratu UNESCO Global Geopark berada di Kabupaten Sukabumi bagian selatan, Jawa Barat. Kawasannya tidak hanya mencakup Ciletuh di Kecamatan Ciemas tetapi membentang hingga wilayah Palabuhanratu dan sejumlah kecamatan lainnya.
UNESCO mencatat kawasan ini memiliki luas sekitar 126.000 hektare. Bentang wilayahnya mencakup kawasan pesisir, dataran tinggi, air terjun, sungai, hutan, kawasan pertanian, dan permukiman masyarakat.
Bagi wisatawan, Ciemas merupakan salah satu titik paling populer karena menjadi lokasi amfiteater Ciletuh, Pantai Palangpang, Puncak Darma, Curug Cimarinjung, Curug Sodong, dan sejumlah geosite.
Kawasan seluas ini membuat perjalanan wisata Jawa Barat sebaiknya direncanakan berdasarkan zona, bukan mencoba mengunjungi semua objek dalam satu hari.
Sejarah Geopark Ciletuh
Nilai utama Ciletuh berasal dari sejarah geologinya. Kawasan ini terletak pada lingkungan tektonik aktif yang berkaitan dengan zona subduksi di selatan Pulau Jawa.
UNESCO membagi keragaman geologi Ciletuh–Palabuhanratu ke dalam tiga bagian besar, yaitu batuan zona subduksi yang terangkat, lanskap Plato Jampang, serta zona magmatik purba dan evolusi busur muka. Beberapa material yang kini berada di daratan berasal dari proses geologi yang dahulu berlangsung di dasar samudra.
Ciletuh juga memiliki batuan berumur puluhan juta tahun yang menjadi bukti perjalanan geologi Pulau Jawa bagian barat.
Kawasan ini ditetapkan sebagai Geopark Nasional pada 22 Desember 2015. Pada 2016 wilayahnya diperluas dan nama kawasan berubah menjadi Ciletuh–Palabuhanratu. Kemudian pada 17 April 2018, UNESCO menetapkannya sebagai UNESCO Global Geopark.
Perjalanan tersebut menjadikan Ciletuh salah satu destinasi penting dalam jaringan wisata alam Indonesia.
Status UNESCO Geopark Ciletuh 2026
Status UNESCO merupakan salah satu hal yang perlu diperhatikan ketika membahas Geopark Ciletuh pada 2026.
Pada 2025, proses revalidasi dilakukan dengan kunjungan asesor UNESCO. Evaluasi menilai pengelolaan kawasan, pendidikan, konservasi, keterlibatan masyarakat, dan pembangunan berkelanjutan.
Pada April 2026, Ciletuh–Palabuhanratu resmi mempertahankan Green Card UNESCO untuk periode 2026–2029 bersama Rinjani-Lombok dan Kaldera Toba.
Artinya, status UNESCO Global Geopark Ciletuh masih aktif pada 2026.
Pengakuan tersebut bukan sekadar label wisata. Konsep UNESCO Global Geopark menekankan perlindungan warisan geologi sekaligus pendidikan serta peningkatan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.
Daya Tarik Geopark Ciletuh
1. Amfiteater Alam Ciletuh
Salah satu karakter paling spektakuler adalah Ciletuh Amphitheatre, bentang alam raksasa berbentuk seperti tapal kuda.
UNESCO menyebutnya sebagai amfiteater alam terbesar di Indonesia. Struktur ini terbentuk melalui proses geologi panjang pada Plato Jampang dan kini dikelilingi air terjun serta perbukitan.
Dari tempat tinggi seperti Puncak Darma, bentuk teluk, dataran hijau, garis pantai, dan dinding perbukitan dapat terlihat dalam satu panorama.
Bagi pencinta geowisata Indonesia, lanskap inilah yang membuat Ciletuh berbeda dibandingkan destinasi pantai biasa.
2. Puncak Darma
Puncak Darma menjadi salah satu titik pandang paling terkenal di Geopark Ciletuh.
Dari ketinggian, wisatawan dapat melihat Teluk Ciletuh, Pantai Palangpang, persawahan, perkampungan, serta perbukitan yang membentuk amfiteater.
Pagi dan menjelang sore merupakan waktu menarik untuk berkunjung. Ketika udara cerah, pandangan lebih luas dan warna bentang alam terlihat lebih kuat.
Jangan berdiri melewati batas pengaman hanya demi mendapatkan foto karena beberapa bagian kawasan berada dekat lereng.
3. Pantai Palangpang
Pantai Palangpang berada pada bagian dasar amfiteater dan menjadi salah satu pusat aktivitas wisata Ciletuh.
Bentang pantainya luas dengan pemandangan teluk dan perbukitan yang mengelilinginya. Dari kawasan ini, wisatawan dapat memahami skala amfiteater Ciletuh dari perspektif berbeda.
Pantai juga menjadi titik yang strategis untuk mengakses beberapa objek di Kecamatan Ciemas.
Panorama tersebut menjadikan Palangpang salah satu tujuan menarik ketika menjelajahi pantai Sukabumi.
4. Curug Cimarinjung
Curug Cimarinjung berada di Kampung Cimarinjung, Desa Ciwaru, Kecamatan Ciemas. Dinas Pariwisata Kabupaten Sukabumi mencatatnya sebagai salah satu objek wisata di kawasan geopark.
Air terjun ini menarik karena berada di antara tebing batu yang memperlihatkan karakter geologi kawasan.
Aksesnya relatif populer dibandingkan beberapa curug lain. Namun jalur menuju bagian dekat air terjun tetap membutuhkan kehati-hatian karena batu dapat licin.
5. Curug Sodong
Curug Sodong dikenal dengan aliran air berdampingan sehingga sering disebut mempunyai karakter air terjun kembar.
Lingkungan tebing dan vegetasi membuatnya menarik untuk fotografi serta rekreasi alam.
Debit air dapat berubah mengikuti musim. Ketika hujan deras, wisatawan harus lebih berhati-hati terhadap arus dan kondisi jalur.
Curug ini sering dimasukkan bersama Cimarinjung dalam itinerary air terjun Jawa Barat.
6. Curug Awang
Curug Awang berada di Desa Tamanjaya, Kecamatan Ciemas. Dinas Pariwisata Kabupaten Sukabumi juga mencatatnya sebagai salah satu destinasi dalam kawasan Geopark Ciletuh.
Bentuknya melebar pada bagian tebing sehingga ketika debit sedang tinggi sering dibandingkan dengan air terjun berbentuk tirai.
Pemandangan dapat berubah drastis antara musim hujan dan kemarau. Wisatawan yang datang untuk melihat debit besar tetap harus mengutamakan keselamatan.
7. Curug Puncak Manik
UNESCO memasukkan Puncakmanik sebagai salah satu air terjun penting di kawasan Ciletuh Amphitheatre bersama Awang, Cimarinjung, dan Sodong.
Karakter perjalanan menuju air terjun cenderung lebih cocok bagi pengunjung yang siap berjalan dan menghadapi medan alam.
Gunakan alas kaki dengan daya cengkeram baik serta hindari perjalanan ketika cuaca buruk.
8. Batuan Purba dan Geosite
Ciletuh bukan hanya tempat melihat panorama. Nilai internasional kawasan terutama berasal dari geologinya.
Berbagai geosite memperlihatkan batuan yang berkaitan dengan proses subduksi, aktivitas vulkanik purba, sedimentasi, dan pengangkatan dasar samudra.
Karena itu, perjalanan akan terasa lebih bermakna apabila wisatawan memahami cerita geologi di balik pemandangan.
Menggunakan pemandu lokal dapat membantu ketika fokus kunjungan adalah edukasi dan wisata geologi.
Keanekaragaman Hayati
UNESCO tidak hanya menyoroti geologi Ciletuh–Palabuhanratu. Kawasan hutan tropisnya juga menjadi habitat sejumlah satwa penting.
Spesies yang disebut UNESCO antara lain macan tutul Jawa, owa Jawa, surili, kukang Jawa, rangkong, merak hijau, elang Jawa, dan gelatik Jawa.
Keberadaan biodiversitas tersebut memperlihatkan mengapa konservasi geopark tidak boleh hanya berfokus pada batuan.
Wisatawan tidak boleh mengganggu satwa, mengambil tumbuhan, atau memasuki kawasan konservasi tanpa izin.
Budaya Masyarakat Geopark
Geopark Ciletuh juga memiliki kekayaan budaya.
UNESCO mencatat Kampung Batik Purwasedar sebagai salah satu contoh pengembangan ekonomi masyarakat. Motif Batik Pakidulan terinspirasi oleh karakter geopark seperti curug, Panenjoan, serta batuan Jampang. Pewarna alami juga digunakan dalam sebagian produksinya.
Warisan budaya lainnya mencakup seni tradisional dan kehidupan kasepuhan di kawasan sekitar.
Hal ini membuat perjalanan tidak harus selalu berfokus pada panorama. Wisatawan dapat menggabungkan alam dengan wisata budaya Jawa Barat.
Harga Tiket Geopark Ciletuh 2026
Tidak tersedia satu harga tiket masuk Geopark Ciletuh 2026 untuk seluruh kawasan.
Hal ini karena Ciletuh–Palabuhanratu merupakan kawasan geografis yang luas, bukan satu objek wisata berpagar.
Biaya perjalanan dapat terdiri dari tiket masing-masing destinasi, parkir kendaraan, pemandu, sewa kendaraan lokal, makanan, penginapan, serta aktivitas tambahan.
Beberapa titik pandang atau ruang publik dapat memiliki skema biaya berbeda dengan objek air terjun dan pantai.
Karena tarif lokal dapat diperbarui, tanyakan harga di loket resmi sebelum membayar.
Konsep tersebut perlu dipahami agar wisatawan tidak keliru menganggap ada satu tiket yang otomatis memberikan akses ke seluruh destinasi wisata Sukabumi.
Jam Buka Geopark Ciletuh 2026
Geopark Ciletuh juga tidak mempunyai satu jam buka yang berlaku untuk seluruh kawasan.
Desa, jalan umum, kawasan pesisir, penginapan, dan permukiman tentu beroperasi dengan pola berbeda dari loket objek wisata.
Air terjun, titik pandang berbayar, pusat informasi, atau fasilitas wisata mengikuti jam masing-masing.
Untuk keselamatan, kunjungan ke air terjun dan geosite sebaiknya dilakukan pada pagi hingga sore hari.
Hindari tiba di lokasi alam terpencil menjelang malam jika belum mengenal medan.
Fasilitas
Fasilitas wisata di kawasan Ciletuh semakin berkembang seiring meningkatnya kunjungan.
Di pusat wisata seperti Ciemas dan sekitar Pantai Palangpang tersedia pilihan penginapan, homestay, rumah makan, warung, tempat parkir, toilet, musala, serta jasa wisata.
Kualitas dan kelengkapan fasilitas berbeda antarobjek karena wilayah geopark sangat luas.
Sebaiknya isi bahan bakar kendaraan sebelum masuk lebih jauh ke kawasan tertentu dan jangan menunggu tangki hampir kosong.
Pilihan akomodasi lokal juga menjadi bagian penting dari pengembangan pariwisata berkelanjutan karena membantu ekonomi masyarakat setempat.
Cara Menuju Geopark Ciletuh
Dari Jakarta, perjalanan menuju Ciletuh dapat diarahkan melalui Bogor dan Sukabumi kemudian menuju kawasan selatan Kabupaten Sukabumi.
Akses menuju Ciletuh kini lebih baik dibandingkan masa lalu, tetapi perjalanan tetap membutuhkan waktu karena jarak cukup jauh dan beberapa ruas melewati perbukitan.
Dari Kota Sukabumi, wisatawan dapat menuju kawasan Ciemas mengikuti navigasi menuju Puncak Darma atau Pantai Palangpang.
Mobil dan sepeda motor merupakan pilihan praktis karena jarak antarobjek cukup berjauhan.
Pastikan kondisi rem, ban, lampu, dan bahan bakar sebelum melakukan road trip Jawa Barat.
Waktu Terbaik Berkunjung
Musim dengan cuaca relatif cerah menarik untuk panorama Puncak Darma dan pantai.
Namun pengunjung yang mengejar air terjun dengan debit lebih besar biasanya menyukai periode ketika curah hujan masih cukup. Konsekuensinya, jalur dapat menjadi lebih licin.
Pagi hari merupakan waktu terbaik untuk memulai perjalanan. Selain udara lebih nyaman, wisatawan mempunyai waktu cadangan jika perjalanan antarobjek lebih lama dari perkiraan.
Hindari memaksakan itinerary terlalu banyak karena Geopark Ciletuh jauh lebih nyaman dijelajahi secara perlahan.
Tips, Trik, dan Saran
Tips
Gunakan kendaraan yang sehat, isi bahan bakar sejak awal, dan unduh peta offline untuk berjaga-jaga jika sinyal melemah.
Bawa sandal atau sepatu dengan grip baik untuk mengunjungi air terjun.
Sediakan air minum, jas hujan, obat pribadi, power bank, dan uang tunai.
Trik
Susun objek berdasarkan zona. Jangan bolak-balik dari satu sisi geopark ke sisi lainnya karena akan menghabiskan waktu.
Datang pagi ke Puncak Darma, kemudian turun menuju kawasan Palangpang dan air terjun.
Menginap di Ciemas lebih efektif untuk wisatawan yang ingin mengeksplorasi beberapa tempat wisata alam sekaligus.
Saran
Jangan mengambil batu dari geosite sebagai suvenir. Nilai geopark bergantung pada terjaganya warisan geologi di lokasi asalnya.
Hormati masyarakat lokal, gunakan fasilitas yang tersedia, dan buang sampah pada tempatnya.
Untuk trekking ke objek yang belum dikenal, pertimbangkan pemandu lokal.
Geopark Ciletuh Cocok untuk Siapa?
Geopark Ciletuh cocok untuk keluarga yang menyukai road trip dan panorama alam, meskipun pemilihan objek harus disesuaikan dengan usia anak.
Pasangan dapat menikmati Puncak Darma, pantai, dan suasana pedesaan.
Fotografer memiliki pilihan panorama yang sangat beragam, mulai dari teluk hingga air terjun dan batuan.
Pelajar serta mahasiswa geologi akan memperoleh nilai edukasi tinggi karena kawasan ini menyimpan bukti penting proses pembentukan Pulau Jawa bagian barat.
Destinasi ini juga sangat menarik bagi wisatawan yang ingin melakukan jelajah Indonesia dengan pendekatan alam, budaya, dan edukasi sekaligus.
Itinerary Geopark Ciletuh 1 Hari
06.00: Memulai perjalanan di kawasan Ciemas.
06.30–08.00: Menikmati panorama dari Puncak Darma.
08.30–10.00: Berkunjung ke Pantai Palangpang.
10.30–12.00: Menjelajahi Curug Cimarinjung.
12.00–13.00: Makan siang.
13.30–15.00: Mengunjungi Curug Sodong.
15.30–17.00: Menikmati perjalanan dan panorama sore sebelum kembali ke penginapan.
Satu hari hanya cukup untuk beberapa titik utama. Jangan mencoba mencakup seluruh geopark.
Itinerary Geopark Ciletuh 2 Hari
Hari Pertama
Mulai dari Puncak Darma pada pagi hari. Setelah menikmati panorama amfiteater, turun menuju Pantai Palangpang.
Lanjutkan ke Curug Cimarinjung dan Curug Sodong. Sore digunakan untuk bersantai dan menginap di sekitar Ciemas.
Hari Kedua
Mulai pagi menuju Curug Awang atau geosite lain sesuai kondisi akses.
Setelah itu, perjalanan dapat diarahkan menuju titik budaya atau kawasan Palabuhanratu jika waktu memungkinkan.
Itinerary dua hari memberikan pengalaman lebih masuk akal untuk menikmati Geopark Indonesia tanpa terburu-buru.
Wisata Terdekat dan Satu Kawasan
Puncak Darma merupakan titik pandang utama untuk melihat amfiteater Ciletuh.
Pantai Palangpang cocok untuk menikmati panorama teluk sekaligus menjadi basis perjalanan.
Curug Cimarinjung menawarkan kombinasi air terjun dan tebing geologi.
Curug Sodong terkenal dengan bentuk aliran airnya yang khas.
Curug Awang menawarkan panorama air terjun lebar ketika debit mendukung.
Palabuhanratu dapat menjadi kelanjutan perjalanan bagi wisatawan yang mempunyai waktu lebih panjang.
Dengan banyaknya pilihan tersebut, Geopark Ciletuh merupakan salah satu kawasan wisata alam Jawa Barat yang lebih ideal dinikmati selama beberapa hari.
Rute dari Kota Besar
Dari Jakarta
Dari Jakarta, arahkan perjalanan menuju Bogor kemudian Sukabumi dan lanjutkan ke Kabupaten Sukabumi bagian selatan.
Sediakan waktu perjalanan yang cukup dan hindari membuat jadwal kunjungan objek terlalu ketat pada hari kedatangan.
Dari Bandung
Dari Bandung, perjalanan menuju Sukabumi dapat dilakukan melalui jalur darat dengan rute menyesuaikan kondisi lalu lintas aktual.
Karena perjalanan cukup panjang, berangkat pagi atau menginap menjadi pilihan lebih nyaman.
Dari Bogor
Dari Bogor, lanjutkan menuju Sukabumi kemudian ikuti jalur menuju kawasan Ciemas.
Gunakan navigasi aktual karena kondisi jalan, rekayasa lalu lintas, dan pilihan rute dapat berubah.
FAQ Geopark Ciletuh
1. Di mana Geopark Ciletuh berada?
Geopark Ciletuh berada di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, dan merupakan bagian dari Ciletuh–Palabuhanratu UNESCO Global Geopark.
2. Apakah Geopark Ciletuh masih berstatus UNESCO pada 2026?
Ya. Ciletuh–Palabuhanratu memperoleh Green Card UNESCO untuk periode 2026–2029.
3. Berapa harga tiket Geopark Ciletuh 2026?
Tidak ada satu tiket terpadu untuk seluruh geopark. Setiap destinasi dapat mempunyai tiket, parkir, atau biaya fasilitas sendiri.
4. Jam berapa Geopark Ciletuh buka?
Tidak ada satu jam operasional kawasan. Jam kunjungan mengikuti masing-masing objek wisata.
5. Apa spot paling terkenal di Geopark Ciletuh?
Puncak Darma, Pantai Palangpang, Curug Cimarinjung, Curug Sodong, dan Curug Awang termasuk yang paling populer.
6. Berapa luas Geopark Ciletuh?
UNESCO mencatat luas Ciletuh–Palabuhanratu UNESCO Global Geopark sekitar 126.000 hektare.
7. Berapa hari ideal untuk liburan ke Geopark Ciletuh?
Dua hingga tiga hari lebih ideal karena jarak antarobjek cukup jauh.
8. Apakah Geopark Ciletuh cocok untuk anak?
Cocok untuk keluarga dengan memilih objek yang mudah diakses. Anak harus diawasi ketat di pantai, tebing, dan air terjun.
9. Apakah bisa menggunakan mobil ke Geopark Ciletuh?
Ya. Mobil merupakan salah satu kendaraan praktis untuk menjelajahi kawasan karena jarak antardestinasi cukup jauh.
10. Mengapa Geopark Ciletuh istimewa?
Kawasan ini memiliki warisan geologi berkelas internasional, termasuk batuan purba, jejak proses subduksi, amfiteater alam, air terjun, pantai, keanekaragaman hayati, serta budaya masyarakat yang dikelola dalam konsep UNESCO Global Geopark.
Penutup
Geopark Ciletuh bukan sekadar kumpulan pantai dan air terjun. Kawasan ini merupakan bentang alam luas yang menyimpan rekaman perjalanan geologi Pulau Jawa, kehidupan masyarakat, kekayaan biodiversitas, dan budaya lokal. Status Green Card UNESCO untuk periode 2026–2029 semakin memperkuat posisinya sebagai salah satu geopark penting Indonesia.
Puncak Darma, Pantai Palangpang, Curug Cimarinjung, Curug Sodong, Curug Awang, serta berbagai geosite memberikan pengalaman yang berbeda dalam satu kawasan. Kuncinya adalah tidak terburu-buru. Menginap satu atau dua malam akan membuat perjalanan jauh lebih nyaman dibandingkan mencoba mengunjungi semua tempat dalam sehari.
Datang dengan kendaraan yang siap, perhatikan cuaca, patuhi aturan keselamatan, dan jangan mengambil atau merusak unsur geologi. Dengan pendekatan tersebut, perjalanan ke Geopark Ciletuh bukan hanya menghasilkan foto indah, tetapi juga memberikan pemahaman tentang salah satu warisan bumi paling berharga di Indonesia.
Keyword Terkait
Geopark Ciletuh 2026, Geopark Ciletuh Sukabumi, Ciletuh Palabuhanratu UNESCO Global Geopark, tiket Geopark Ciletuh 2026, harga tiket Geopark Ciletuh, lokasi Geopark Ciletuh, rute Geopark Ciletuh, wisata Ciletuh Sukabumi, Puncak Darma 2026, Pantai Palangpang, Curug Cimarinjung, Curug Sodong, Curug Awang, wisata Ciemas Sukabumi, UNESCO Global Geopark Indonesia, wisata alam Sukabumi, amfiteater Ciletuh, geosite Ciletuh, itinerary Geopark Ciletuh, wisata Sukabumi 2026
